Saturday, March 26, 2011

Curcol : Bekerja atau Membantu, Pamrih atau Ikhlas, Profesional atau Pribadi

this post is written in Indonesian. (and a little english actually)
Tulisan ini ditulis dengan bahasa Indonesia
この投稿はインドネシア語で書かれた。
--------------------------------------------
HATI-HATI : Tulisan ini kemungkinan OFENSIF / menyinggung perasaan.
Baca dengan pikiran terbuka--meski tulisan ini serius--jangan dianggap terlalu serius :p
Kalau tidak siap dengan konsekuensinya, mohon berhenti membaca. Terima kasih.

Kamu sudah diperingatkan.
------------------------------------------------------

Saya sudah tahu solusi pemikiran, perasaan, dan sikap untuk curcol saya ini.
Jadi sebenernya secara formal udah fine-fine aja tetapi saya masih belum tenang.
Biasanya, salah satu cara untuk mengurangi beban adalah dengan menuliskannya di blog.
So be it.
--

Kalau saya harus menyebut siapa orang paling jahat di dunia, saya akan menyebut : "Saya sendiri."


Saya adalah seorang illustrator lepas (meski kadang orang Indonesia sering salah kaprah dan menyebut saya desainer). Saya bisa mendesain (dan mohon maaf, saya merasa kemampuan desain saya juga tidak buruk), meski relatif lebih nyaman kalau porsinya sedikit dibandingkan dengan ilustrasi.

Saya bukanlah ilustrator handal (bedakan handal dengan profesional), tetapi saya bersyukur mendapat pengakuan dari beberapa orang bahwa saya dapat berkarya cukup baik. Saya semi-profesional.
Pengalaman karir dan sosialisasi saya membuatku (setidaknya sekuat tenanga berusaha) benar-benar menghargai orang lain yang memiliki profesi sama / sejenis.

Saya berpendapat bahwa siapapun yang bekerja, pantas mendapatkan upah kerja TANPA harus merasakan ketidaknyamanan dalam bentuk perasaan maupun sikap. Saya berpendapat bahwa, dengan siapapun kita bekerja, termasuk dengan keluarga dan teman kita, selama itu benar-benar dalam status hubungan 'kerja', maka kita berhak mendapatkan hak-hak sebagai pekerja dan/atau klien.

Sebagai seorang ilustrator, saya berpendapat--dan menganut sebuah ajaran--bahwa saya harus membuat kontrak, terutama untuk--tapi tidak terbatas pada--pekerjaan yang serius dan menghasilkan profit (komersial). Saya berpendapat bahwa kontrak resmi bermaterai, yang disepakati oleh klien dan diri saya, adalah sah dan masing-masing pihak harus siap menerima keuntungan dan konsekuensinya.


Saya memiliki dua jenis prinsip dalam berkarya untuk orang lain:
1. Membantu -- saya tidak meminta bayaran. biasanya untuk seneng-seneng.

2. Bekerja -- saya menuntut hak sebagai pekerja--mau kerjaannya bikin seneng atau nggak.

Saya memiliki standar berteman yang sedikit berbeda mungkin dengan beberapa orang. Standar ini, bisa saja merupakan sebuah tindakan ofensif bagi beberapa orang. Jadi mohon maaf. Saya itu berteman karena sebuah faktor X yang kadang-kadang tidak bisa didefinisikan. Faktor X tersebut membuat saya dan teman dekat saya merasa klop dan pas bahkan tanpa sebab apa-apa--tanpa harus punya kesamaan atau obrolan yang enak--saya bahkan punya teman yang tak banyak obrolan jika sedang bersama tapi saya sendiri [atau kami] merasa nyaman dengan itu. .

Saya tanpa sungkan-sungkan akan meminta bayaran jika bekerja dengan orang tak dikenal / klien profesional, tetapi saya memiliki beberapa paham khusus jika berhadapan dengan teman (baik atau dekat). Mohon maaf jika ini ofensif. Begini penjelasannya

1. vs. teman dekat
a. Jika proyeknya komersial, menarik, dan saya ingin berperan besar dalam proyek tersebut demi kebaikan bersama, maka saya akan membantu.
b. Jika proyeknya komersial tetapi proyek tersebut tidak menarik buat saya, maka saya akan bekerja untuk dia dengan tarif yang sangat fleksibel--tak harus uang, traktiran makan enak pun kadang-kadang bisa. Tapi tergantung tingkat kesulitan proyeknya. Kontrak tertulis boleh dilakukan atau tidak, sekali lagi tergantung tingkat kesulitan proyeknya
c. Jika proyeknya non-komersial, menarik ataupun tidak, saya akan membantu dia jika ada waktu luang, tetapi dengan prioritas cukup tinggi (jika proyeknya menarik, maka ada kemungkinan saya akan berkarya 'plus bonus').

2. vs teman 'biasa' (sekali lagi maaf)
a. Jika proyeknya komersial, menarik, dan saya ingin berperan besar dalam proyek tersebut demi kebaikan bersama, maka saya akan membantu. Kontrak harus ada.
b.Jika proyeknya komersial tetapi proyek tersebut tidak menarik buat saya, maka saya akan bekerja. Kontrak harus ada. Royalti harus ada jika memang perlu. Tarif harus disepakati bersama. Hak-hak dan kewajiban bersama harus dipenuhi. Saya berhak menganggap klien benar-benar sebagai 'klien', bukan 'teman'. Saya berhak tidak menggunakan perasaan dalam bekerja.
c. Jika proyeknya non-komersial, jika menarik, saya akan membantu jika ada waktu luang, saya akan bekerja jika memang proyek tersebut penting. Jika bekerja, maka saya berhak membuat kontrak.
d. Jika proyeknya non-komersial dan tidak menarik, saya akan berusaha membantu jika ada waktu luang dan saya tidak segan menolaknya jika tidak membutuhkannya.

*catatan : 'berperan besar dalam proyek tersebut demi kebaikan bersama' di sini tidak hanya berarti secara literal, tetapi juga berarti bahwa proyek tersebut akan memberikan manfaat besar kepadaku baik secara ekonomi, portfolio, skill, pengalaman, dan juga perasaan senang.

Nah,

Saya bekerja (ya, bekerja, bukan 'membantu') untuk seorang teman saya. Teman yang--mohon maaf--tidak saya anggap sebagai teman dekat. Mari kita sebut dia sebagai 'Aitsu'. Nah, saya tidak menemukan faktor X itu di diri klien saya ini, si Aitsu. Sehingga, dengan segala hormat kalik aja kliennya mbaca ini, saya menganggap klien tersebut bukan teman dekat saya. Dia membuat sebuah proyek yang komersial dan juga idealis. Sayang, proyeknya kurang menarik untuk saya, sehingga saya merasa harus 'bekerja' untuk dia dan membuat kontrak. Dia meminta saya untuk join di tim-nya menggantikan posisi desainer [yeah, desainer] sebelumnya yang keluar karena alasan pendidikan.

So, let's summarize it :
Teman 'biasa' ? Check
Proyek komersial ? Check
Tidak Menarik ? Check

Maka saya harus melakukan langkah 2B.

Kami pun bertemu dan membuat kontrak, awalnya saya cukup yakin dengan sikapnya yang tampak pro. Saya sendiri sempat malu karena saya terlambat di hari pembuatan kontrak.
Kontrak kami berlaku sekian bulan. Saya dijanjikan akan dibayar Rp. 'Sekian-sekian' per bulan dengan tambahan Rp 'Sekian' jika membuat ilustrasi tertentu  (saya nggak lagi bercanda, jadi 'sekian' di sini berarti sebuah nominal yang terpaksa saya tutupi demi kesopanan dan privasi). Pekerjaan saya termasuk banyak dan agak ribet untuk bayaran segitu. Padahal saya kadang-kadang bisa mendapatkan setidaknya setengah dari Rp 'Sekian-sekian' tersebut untuk satu kali ilustrasi, tetapi karena saya juga ada niat 'cari pengalaman', maka soal bayaran saya sepakat dengan negonya. Posisi saya adalah sebagai Creative Director yang mengatur SEGALA proses kreatif termasuk publikasi dan ide-ide. Segala yang berbau grafis diserahkan kepada saya. Bahkan web-design yang notabene bukan jalur saya. Tetapi tak apalah demi pengalaman. Meski jujur aja itu serius kurang. Tetapi mungkin aja standarku ketinggian sih. lol

Jadilah saya bekerja di sana. Pada awalnya sedikit menyebalkan karena saya mendapatkan file-file warisan dari pemegang jabatan sebelumnya--yang cukup berantakan sehingga menyulitkan saya untuk menyortirnya. Selain itu, sistem kerjanya--meski terstruktur--lebih banyak improvisasi dan mlengse2nya. Sering ada rekues pengerjaan sesuatu yang dadakan. Bukan masalah besar lah, hanya menyebalkan.

Proyeknya ini, perkembangan awalnya merupakan 70% berkaitan dengan grafis meski Aitsu sendiri tidak terlalu menguasai soal itu dan tidak terlalu memahaminya, dia adalah sebagai manajer, bos, dan pemegang modal dan duit. Ada juga member lain yang memiliki tanggung jawabnya masing-masing.

Yang membuat sedikit susah adalah, saya nggak cocok sama hampir semua orang di sana secara hubungan pribadi. Bukan masalah bagiku, tetapi mereka adalah sekelompok teman, yang sepertinya tidak bisa melepas perasaan dan obrolan-obrolan tersebut dalam bekerja. Saya sih bekerja dengan dingin [nggak terlalu mikirin perasaan pribadi ], tetapi tampaknya--(lagi-lagi asumsi) dari sikap mereka, saya dituntut untuk tidak begitu. Kalau dipikir secara positif sepertinya adalah, mereka dan Aitsu ingin saya bisa dekat secara personal dengan mereka. Tetapi, maaf, saya sampai menuliskan blog ini, belum bisa mendapatkan faktor X itu dari mereka. Kebingungan untuk tetap dingin atau 'tidak menjadi diri sendiri' itu yang sedikit membuat susah di sini.

Soal bayaran kadang tidak jarang menyimpang dari kontrak [telat beberapa hari/amat sangat terlalu awal]. [sampai sekarang aku merasa bayaran itu tidak sesuai, tetapi....] Bukannya gembira ria jika gajian,  saya sebenarnya selalu tidak enak ketika mendapatkan gaji. Tau nggak? karena...
---hmm ntar aku ceritain habis ini.

Saya mulai benar-benar mendapatkan ritme kerjanya, dan cukup cuek, ketika bulan ketiga. Manusia berkembang dan berubah. Di situlah saya mulai menerapkan prinsip, 'peduli amat, pokoknya harus beres, dan ketika ini semua selesai, aku harus tetap keren.' Sejak itu, karya-ku untuk mereka kuanggap lebih baik dari sebelumnya, dan kerjaku sedikit lebih meningkat dari sebelumnya.

Aitsu itu baik sekali orangnya secara pribadi. Baik sekali meski kadang berantakan.
Meski tidak sedikit kerjaan diluar kontrak yang harus saya kerjakan.

Di bulan terakhir kontrak, saya menyelesaikan segala tugas dan PR saya. Saya tidak berniat melanjutkan kontrak, selain karena saya sedang tidak ingin berurusan dengan desain-mendesain [bukan ilustrasi loh], saya ingin fokus kuliah--setidaknya untuk memperbaiki kemampuan saya [nilai memang bukan tolak ukur kemampuan akademis lho. hahaha]. Saya ingin mengurangi kegiatan tersebut.

Meskipun demikian, aku tidak menutup kemungkinan untuk bergabung dengan mereka lagi di masa depan.

Sepertinya keputusanku itu membuat susah Aitsu. Tetapi, secara hukum, saya tidak salah karena saya sudah menyelesaikan segala tugasku [dan belum dikasih tambahan] plus saya menaati kontrak tersebut.
Mungkin, secara personal saya salah, karena tidak membantu teman. Jahatnya diri saya ya?

Saya juga heran, rupanya saya yang jahat ini masih dibutuhkan juga ya di sana?

Entah ada alasan apa sih, hingga sekarang, yang udah hampir sebulan, gaji terakhirku belum dibayar. Aku benar-benar tidak enak hati jika menagihnya, inilah alasan yang sampai aku kasih quote, hehehe :
'Jika aku menagihnya, (jangan-jangan) kesannya aku sangat pamrih dalam bekerja + kaku + tidak menghargai teman + tidak punya perasaan + jahat.
Jika aku tidak menagihnya, itu juga salah (setidaknya buatku) karena dalam kontrak sudah tercantum mengenai hal tersebut dan saya sudah mengerjakan segala kewajiban saya di kontrak.'

Beberapa kali saya bertemu dia pasca-kontrak habis untuk memberikan file-file yang akan diwariskan ke pemegang jabatan berikutnya (aku menyortirnya :p biar nggak pada bingung.. saya tak mau seperti pemegang jabatan sebelumnya). Di pertemuan-pertemuan tersebut, saya tak pernah mendapatkan gaji saya. Hingga aku menuliskan blog ini. Entah dia lagi gak ada duit, atau sebenernya emang nggak suka sekali sama saya yang bekerja sesuai kontrak ini, saya gak tau.

Tau nggak salah satu penyebab aku mikir gitu? Penyebabnya adalah : sepertinya sebagian besar teman-temannya yang kontribusi di proyeknya itu, membantunya, bukan bekerja untuknya seperti aku.

That makes me look like a real badass jerk. Seriously.

Itulah yang menjadi dilema buatku, ketika mereka menganggapku sebagai teman dan mereka punya 'tuntutan halus' untuk saya agar berlaku seperti 'teman' mereka, sedangkan aku menganggap mereka--maaf--hanya 'teman biasa' sehingga saya bekerja tanpa memikirkan perasaan pribadi. Sehingga saya bekerja sesuai kontrak dan sedikit keberatan jika dituntut untuk melakukan pekerjaan di luar kontrak. Konflik menjadi profesional atau 'membantu' itulah, sekali lagi, yang jadi alasanku tidak enak setiap kali menerima gaji. Sikap Aitsu itulah yang ndlilalah juga tampak 'desperate', 'tidak enakan', dan 'memohon' aku agar 'membantu' [tetapi di beberapa jam sebelum aku menulis tulisan ini, aku mendapati bahwa sepertinya beberapa dari sikapnya itu adalah honne tatemae [silakan tanya orang yg bisa bahasa jepang]. ini tapi hanya asumsi, semoga aja salah]



Pada akhir aku menulis tulisan ini, aku pun introspeksi, beberapa di antaranya yang terlintas di pikiranku:
bahwa, sekali lagi, aku memang jahat sekali tidak mau membantu teman
bahwa aku [jangan-jangan] jahat sekali karena membuat kontrak segala 
bahwa aku [jangan-jangan] sudah sangat jahat dengan 'bekerja sesuai kontrak'  
bahwa aku [jangan-jangan] sudah pamrih dan tidak memikirkan perasaan pribadi.
bahwa aku membantah quotes dari acara mario teguh : 'kalau masih muda, jangan kerja demi uang.'
dan bahwa aku terlalu idealis dan kurang realistis ketika di sana.
oh sudahkah aku bilang kalau aku [jangan-jangan] jahat sekali?

sepertinya memang aku benar-benar merupakan tokoh antagonis di sini karena aku tidak seperti Aitsu dan teman-temannya.

sepertinya itu beberapa contohnya.

Kurang-lebih begitulah curcolku.

Pembaca yang merasa tersinggung, sebal, jijik, dan menganggapku nggak bisa kerja sesuai standar kalian, menganggapku salah. saya mohon maaf.

Pengalaman dan pesan yang kudapatkan dari bekerja di situ cukup banyak, tapi yang paling utama:
'kalau kerja, pokoknya mikir 'beres beres dan beres' dan 'aku harus keren'. karena bagaimana kamu bekerja nantinya akan berbalik menjadi bagaimana imej kamu di mata orang lain.'





Aku masih berkontribusi sebagai ilustrator lepas ke proyek tersebut, dan aku selalu berdoa agar proyeknya menjadi lebih sukses.




End of Spare Time.

2 comments:

latebraking said...

Saya mengerti perasaan anda, dan menurut saya anda tidak jahat (kalo mmungkin memang anda jahat berarti saya juga jahat :p). Persoalan ini memang membingungkan karena melibatkan banyak hal, nilai dan norma yang saling bertabarakan. Bahkan saya pernah membaca artikel di web seorang designer yg membahas soal ini saja.

Kalo saya jadi anda, kayaknya saya juga bakal diam saja, nunggu si Aitsu bakal sadar ngga akan hak saya. Kalo sadar alhamdulillah, kalo enggak, ya sudah diikhlaskan saja, untuk menjaga tali silaturahmi, hehe.

Saran saya: untuk mendatang, hindari pekerjaan dengan orang-orang yang punya hubungan pertemanan 'nanggung' dengan kita. Kalo saya biasanya suka 'kabur' dengan mengalihkan topik pembicaraan saya mereka udah mulai ngomong yg nyerempet2 masalah itu, atu bilang aja:sibuk, takutnya ga maksimal. LOL. sekian dari saya

Ofi said...

susah juga ya. dituntut untuk bersikap gimana gimana yang nggak sesuai sama prinsip kita.

kayaknya ditagih aja egapapa deh, kan udah ada kontrak. walaupun pasti ngerasa enggak enak sih....