Tulisan ini ditulis dengan bahasa Indonesia
この投稿はインドネシア語で書かれた。
--------------------------------------
HATI-HATI : Tulisan ini kemungkinan OFENSIF / menyinggung perasaan.
Baca dengan pikiran terbuka--meski tulisan ini serius--jangan dianggap terlalu serius :p
Kalau tidak siap dengan konsekuensinya, mohon berhenti membaca. Terima kasih.
Kamu sudah diperingatkan.
--------------------------------------
"Assumption is the mother of all fuck-ups."
-Travis Dane (Under Siege 2 : Dark Territory)Tokoh dalam imajinasi ini:
A sebagai tokoh utama
B sebagai sahabat (sangat) baik dari A [berjenis kelamin berbeda dari A]
C sebagai sahabat baik dari A & B. [berjenis kelamin sama dengan A]
D sebagai teman dari A,B, & C dan kadang-kadang merupakan sahabat semua orang.. [berjenis kelamin sama dengan A].
E sebagai sahabat baik dari A,B, & C [berjenis kelamin berbeda dari A]
F sebagai sahabat (sangat) baik dari B & E [berjenis kelamin berbeda dari A]
G sebagai sahabat baik dari semuanya. [berjenis kelamin berbeda dari A]
*tidak ada jenis kelamin waria dan sejenisnya. hanya ada pria dan wanita. terima kasih.
** sahabat / sahabat baik berlaku dua arah. setidaknya menurut pandangan saya.
***semua tokoh memiliki orientasi seks 'straight' atau menyukai lawan jenis kelamin.
-----------------------------
Saya BERASUMSI bahwa:
Masalah #1:
D berasumsi dengan sinis bahwa A & C, dengan cara halus, sengaja menghancurkan kesempatan dari D untuk bisa dekat dengan B. Pada saat itu, A & B & C memang bersahabat dan mereka sering saling konsultasi mengenai masalah di kehidupan masing-masing jika memang dibutuhkan konsultasi. Saat itu, D memiliki masalah dengan B, dan A & C hanya berusaha membantu mereka kedua
D juga berasumsi dengan sinis bahwa usaha bantuan A & C itu hanyalah kedok--bahwa A & C sebenarnya juga rebutan ingin dekat dengan B.
Pada akhirnya, asumsi itu dipatahkan (sementara) dengan bukti bahwa B--tanpa tekanan pihak manapun--mengatakan dengan jujur bahwa B merasa tidak nyaman dengan masalah di antara mereka [D & B]. B memang tidak ingin D terlalu dekat dengannya dikarenakan sikap D yang diasumsikan sebagai sikap ketidakdewasaan dan kesinisan terhadap B.
Dalam proses penyelesaian masalah tersebut, A & B sering melakukan kegiatan bersama, baik ekstrakurikuler ataupun bukan. Baik untuk konsultasi menyelesaikan masalah nomer 1 ataupun bukan. Hal tersebut dikarenakan sebuah kebetulan akan banyaknya kemudahan dan efisiensi dalam transportasi dan komunikasi, tanpa berniat mengatakan bahwa sebenarnya mereka berdua menikmati keterbukaan dan kesantaian hubungan mereka.
Mereka berdua pun menjadi sahabat yang jauh lebih akrab. Istilah 'jauh lebih akrab' sebelum kalimat ini bukanlah penghalusan, tetapi merupakan fakta literal.
Masalah itu diasumsikan selesai dengan damai.
Tetapi, terdapat asumsi bahwa D masih memelihara asumsi (dan juga diasumsikan bahwa kesinisannya masih terpelihara secara tersembunyi) yang dia buat seperti di awal masalah ini.
Lalu, muncullah sebuah asumsi yang lain, yaitu
Masalah #2:
Semua orang tentu menyadari akrabnya hubungan A & B. D pun diasumsikan memelihara asumsi miliknya menjadi lebih besar lagi dan lebih sinis lagi. D menganggap bahwa asumsi yang dia buat dan pelihara itu benar, sehingga muncullah asumsi bahwa A & B memang dekat dan mereka memiliki hubungan khusus yang amat spesial seperti sepasang kekasih yang seharusnya D dapatkan tetapi karena D (dianggap) membuat masalah dengan B, maka D tidak mendapatkannya.
Diasumsikan belum ada yang bisa membuktikan asumsi D itu benar atau salah.
Diasumsikan belum ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Kecuali E, F, dan kemudian menyusul G yang akhirnya percaya dan mendapatkan kesaksian langsung dan melihat langsung bahwa sebenarnya, fakta yang terjadi adalah:
A & B memang bersahabat sangat baik. A & B tidak memiliki hubungan spesial meskipun saling menyukai.
Bahwa penambahan embel-embel 'sangat' itu tentu menghasilkan makna yang berbeda dengan yang tidak memiliki tambahan tersebut. Tentu terdapat hak-hak, kewajiban-kewajiban, peraturan-peraturan, kegiatan-kegiatan dan obrolan-obrolan yang berbeda dengan yang tidak memiliki tambahan tersebut.
hanya saja, embel-embel tersebut diasumsikan susah diterima orang lain.
hanya saja, diasumsikan standar hak, kewajiban, peraturan, kegiatan, dan obrolan tersebut tentu berbeda menurut setiap manusia.
Pembaca boleh setuju, menolak, bingung, atau apatis.
Tetapi dalam imajinasi ini, diasumsikan bahwa yang dipercayai dan didapatkan oleh E, F, dan G adalah benar.
Sehingga dari kesimpulan tersebut, diasumsikan bahwa D berasumsi terlalu berlebihan dan diasumsikan bahwa D sendiri-lah yang menyakiti dirinya sendiri dengan asumsi dan sinisme tersebut sehingga diasumsikan menjalar ke hal-hal lain di kehidupan (tergantung situasi dan kondisi. bukan berarti D terus-terusan sinis setiap detiknya. hanya di momen-momen tertentu)
A & B tetap dekat dan rukun. Sedangkan D diasumsikan masih berasumsi dan sinis meski tidak ditunjukkan dan ditutup-tutupi dengan topeng.
setelah beberapa saat, muncullah C dengan
Masalah #3:
C diasumsikan mulai memiliki asumsi yang sama dengan D (bahwa sinisnya juga termasuk atau tidak, saya tidak tahu. asumsikan saja tidak). C diasumsikan akan merasa dikhianati jika ternyata asumsinya benar (catatan : asumsi yang dibuat oleh C & D itu sama meski kemungkinan mereka tidak saling tahu bahwa mereka mengasumsikan hal yang sama). C ingin kebenaran; dia mendapatkannya dari A, E, F, dan G. Tetapi diasumsikan bahwa C menjadi kurang percaya dengan A dan G dalam hal-hal tertentu.
A menerima asumsi barusan (ketidakpercayaan C) dengan lapang hati. Dia percaya bahwa tidak semua orang bisa percaya dan itu bukan hal yang menjadi masalah baginya.
Kemudian B, dalam suatu kesempatan akhirnya mengatakan fakta yang sebenarnya kepada C.
Fakta bahwa A & B memang bersahabat sangat baik. A & B tidak memiliki hubungan spesial meskipun saling menyukai. Fakta yang diasumsikan dipercayai oleh E, F, dan G.
Sepertinya sejak saat itu C sudah tidak masalah lagi. Asumsinya sih begitu
tetapi, A & B masih sedikit tertekan dengan :
Masalah #4 :
A & B berasumsi (tidak dengan sinis) bahwa C & D masih berasumsi. Hal tersebut membuat mereka tidak nyaman. Mereka tidak nyaman dengan asumsi-asumsi itu. Beberapa faktor membuat mereka [C&D] hingga sekarang diasumsikan masih berasumsi. Misalnya, sikap C & D yang diasumsikan secara implisit masih meragukan A & B dan diasumsikan juga mereka [C &D] masih membawa asumsi yang C & B buat sendiri.
Sampai sekarang, A & B berasumsi bahwa
persahabatan sangat baik yang mereka bangun secara tidak sengaja,
pemikiran mereka,
sikap mereka,
diasumsikan masih susah diterima oleh banyak pihak dalam berbagai wujud.
Pada akhirnya, sekali lagi, semua imajinasi serius ini hanyalah sebuah asumsi yang boleh dipercaya, tidak dipercaya, diberi sinisme atau tidak dipedulikan.
----------------------------------------
asumsikan,
End of Spare Time.
7 comments:
semoga aku salah dengan mengira siapa A, B, C, atau D. dan siapa tahu benar :P
Sebagai pihak netral (dan pihak yg sotoy abis), saya sangat menyayangkan D dan C yang secara sepihak berasumsi sedemikian sehingga membuat banyak orang menjadi salah paham.
Sangat childish.
Sekian.
Terima kasih.
NB: Aku percaya bahwa siapapun si A atau si B, mereka memang (sangat) dekat dan memang tidak ada hubungan khusus. Kalaupun di kemudian hari terjadi sesuatu yg membahagiakan di antara A dan B, aku juga turut bahagia *apa sih ini*
Buat A dan B, klasik sih: jangan dengerin apa kata orang yg 'berpikiran-kurang-luas' yang menganggap kalo sepasang cewek-cowok yg deket itu berarti pacaran. Kalo si A atau B butuh bantuanku mengenai hal ini, aku siap membantu.
*ngemeng epeh aku ini*
Ahuahuahua.. aku kok mumet, berusaha mengingat, A tu yg mana B yang mana C yang mana dst. Yang mana yg berjenis kelamin sama, mana yang beda,... xD
Horee.. setelah menghabiskan (banyak) waktu untuk menghapal karakter A-E akhirnya saya paham. xD
Membaca ini saya pun jadi ikut berasumsi mengenai siapa sebenarnya mereka khususnya A & B. LOL.
Pendapat saya sih:
Cuek saja, selama mereka cuma berasumsi itu kan cuma di pikiran mereka, bukan hal yang sebenarnya A atau B lakukan. Toh semua masalah ini berakar dari asumsi, coret saja kata itu dr kamus. tamat.
Oh well..
Aq mbaca ini sampai 2x, barulah aq bisa meraba2 siapa orang2 di dalam sini :)
Btw aq setuju sama mbak latebraking, hhe.
Jadi intinya ya cuekin aja.. toh yang tahu keadaan yang sebenarnya ya si A dan B kan.
Dan oiaaaa, aq juga setuju pendapat
mbak fia..yang ttg qlu pun suatu saat akan terjadi sesuatu yang membahagiakan antara A dan B, kami akan ikut bahagia :P
(fi, jgn komentarin grammarQ ya. hihi)
saya pusing. lagian kaya'nya saya ga kenal ma tokoh-tokoh di atas. klo pun saya ternyata kenal, saya ga tau pokok masalahnya.
anyway saya suka quote pembuka post ini, saya copy paste di twitter atau status FB ya, karena saya baru saja kehilangan teman simply karena salah asumsi. dia yang salah asumsi tepatnya, dan saya malas ngejar-ngejar dia untuk memberi tahu kalau dia salah.
eh kok saya malah jadi curhat? LOL.
ribet :B
persahabatan dengan yg berbeda jenis kelamin memang sulit.. *sigh
Kalau terlalu memperhatikan asumsi-asumsi yg ada, maka bisa berdampak yg -mungkin- negatif, misal jarak antar sahabat yg menjauh..
nb : aku yakin asumsi-asumsi akan terus berlanjut baik sinis maupun tidak..
Post a Comment