Saturday, April 16, 2011

Kok Cuma Sendirian?

This post is written in Indonesian
Tulisan ini ditulis dengan bahasa Indonesia
この投稿はインドネシア語で書かれた。
----

"Kok sendirian?" tanya orang tersebut.

Nah, kadang aku merasa heran dengan beberapa banyak orang di kehidupanku. Aku pengen tahu bagaimana cara mereka memandang 'kesendirian' seseorang.


Aku sering ke suatu tempat umum sendirian. Bukan karena nggak punya teman, tapi memang karena sedang sendirian dan/atau butuh sendirian. Aku tidak cuma sekali dua kali nonton film di bioskop sendirian, ke mall sendirian, ke kampus sendirian karena ada kebutuhan tertentu, Datang ke gig sendirian, Ke toko buku sendirian, Makan di luar sendirian. dan sebagainya sendirian. Termasuk mandi.


Sahabatku, si ongi, juga mengalami hal serupa seperti ini : ditanyain 'kok sendirian?' 
Hari itu dia sedang nonton film di bioskop kalo gak salah


Aku pernah ke kampus sendirian untuk latian musik sama temenku, dan dia tanya, "cuma sendirian, Zam?"


Aku pernah lagi ke toko buku nyari buku, dan ketemu beberapa temenku : "sendirian, Zam?"


Aku pernah lagi ketemu temen dengan pacarnya di sebuah tempat makan, dan mereka bertanya : "kok cuma sendirian, Zam?"



Lalu temen satu bandku pernah mengeluh gini [via twitter] ketika ingin mendatangi sebuah konser musik indie lokal yang menghadirkan musisi dari luar negeri, "Aku pengen dateng ke sana nih, tapi gak ada temen. cuma sendirian."


Ada apa dengan 'sendiri' ? What's wrong with being alone?
 
Ada beberapa kemungkinan mereka bertanya atau mengeluh soal 'sendiri':
Berurutan dari yang paling positive thinking hingga yang paling angsty << halah.
1. Mereka cuma sekedar basabasi tanya / mengeluh
2. Mereka menganggapku tidak biasa sendiri--mereka pikir aku biasa sama temen2 [padahal lebih sering sendirinya lho]
3. Mereka menganggap jalan2 ke luar ke tempat umum sendirian itu kurang nyaman atau kurang wajar.
4. sama dengan nomer 3, akan tetapi dengan ekstra : kalau sendiri itu mati gaya.

Entah kenapa aku lebih nyaman jika orang lain tanyanya gini : "sama siapa, Zam?"
intinya sama kan dengan 'kok cuma sendirian?" tapi nuansanya berbeda lho. Kalo kata dosenku, 'Tidak ada kalimat/kata bersinonim yang persis sama 100% '

Oh, jika alasan ngeluh mengenai kesendirian adalah kemungkinan nomer 4, maka solusinya adalah : 
a. jika takut mati gaya, bawa buku atau handheld game! Hape bisa saja jadi alternatif---tapi memandang dan sibuk dengan hape terlalu lama (atau BB) itu tampak kurang 'gaya' dibandingkan dengan ngegame [game handheld seperti nintendo DS atau PSP] atau membaca. 
oh kalau kamu cukup keren, bisa saja menulis atau sketsa!
(Semua ini berlaku kalo kamu bakal ada dalam situasi menunggu lama sendirian lho.)

b. cuek bebek. nikmati aja kesendirian itu secara sadar atau tidak sadar. mirip main game single player, atau masturbasi lah kalo bahasa seksualitasnya. halah.

Jadi ketika kamu ketemu teman kamu yang jalan2 sendirian, mending tanya 'ngapain? jalan2?' daripada, 'cuma sendirian, nih?' 




Tulisan ini sungguh tidak penting ya
Yang penting ini tulisannya bisa pake helvetica


End of Spare Time

1 comments:

lalityarum said...

menarik. sangat menarik.
aku sendiri tipikal orang yang benci klo harus ke mana-mana sendirian, apalagi di kota di mana aku memiliki banyak teman dan kenalan. dulu ketika baru pertama dateng ke jogja, aku ga masalah ke mana-mana sendirian, malah lebih seneng begitu. toh blom kenal siapa-siapa juga.
jujur aku termasuk orang yang takut ketemu teman / kenalan dan ditanya "kok sendirian?" seperti katamu. mungkin aku lebay tapi somehow pertanyaan itu dibarengi dengan tatapan yg seolah mengatakan "kok keliatan mesakke banget to kamu? ga punya pacar? ga punya temen?"
oh okay tampaknya itu tadi aku aja yang berprasangka terlalu buruk, mungkin karena emang pada dasarnya aku lebih nyaman jalan-jalan bareng orang lain dan bukannya sendirian.
jadi ... ya balik lagi ke tiap-tiap orang sih 'zam. klo misalnya aku lagi pengen sendirian, aku akan lebih memilih tempat yang sepi sekalian seperti cafe.