Saturday, April 16, 2011

Review Film : ? (Tanda Tanya) -- karya Hanung Bramantyo


(This review is written in Indonesian
この映画レビューはインドネシア語で書かれた。
Resensi ini ditulis dalam bahasa Indonesia)

-------------------------------------------------------------
PERHATIAN:
Tulisan ini kemungkinan mengandung hal-hal sensitif dan ofensif terhadap SARA. Apabila Anda tidak berkenan dengan hal tersebut, tidak siap akan konsekuensi, atau ragu-ragu mohon segera berhenti membaca sekarang.
Jangan bilang Anda belum diperingatkan.

? 
(Tanda Tanya) -- 
karya Hanung Bramantyo

Saya mendengar tentang film ini sekitar seminggu yang lalu dari postingan teman di twitter yang berpesan kepada followernya agar waspada dengan film berbau pluralisme yang berjudul '?' karya Hanung Bramantyo. Tampaknya menarik, saya suka dengan film-film kontroversial semacam ini. [Apalagi saya termasuk dalam orang yang setuju dengan *cough* pluralisme dan *cough* multikulturalisme *cough*]

Sepertinya beberapa tidak sedikit pihak di kalangan umat muslim yang memprotes adanya film ini. 

Teman SD saya [dia muslim] posting status di FB dan mengatakan bahwa film ini bagus banget. Walhasil karena penasaran, saya mengajak teman-teman untuk menonton film ini di bioskop terdekat.

Ringkasan cerita--yang tidak ringkas (AWAS SPOILER/BOCORAN!)
Film ini menceritakan tentang kehidupan beberapa orang yang berbeda agama dan suku di Semarang. 
  • Ada Rika, seorang janda (MILF! lol. Cantik! Sexxaaayy. I Love this woman) beranak satu yang murtad dari Islam karena (sepertinya) ditinggal suaminya poligami, diperankan oleh Enditha. Anak laki-lakinya yang masih SD, Abi, adalah seorang muslim.
  • Lalu ada Soleh, seorang pria muslim *cough* garis keras *cough* yang sedang menganggur dan kebingungan dengan hidupnya--
  • serta istrinya, Menuk (diperankan oleh Revalina Es Tomat yang supercantik kalau memakai jilbab) yang merupakan seorang muslimah taat yaaaaaaang bekerja disebuah restoran masakan Cina yang juga menjual hidangan babi.
  • Restoran itu dimiliki oleh Tan Kat Sun [karakter favorit saya nih]--seorang kakek-kakek yang udah hampir meninggal karena sakitnya--seorang idealis yang amat sangat toleran dengan perbedaan; meski beliau menjual masakan babi yang dianggap haram oleh orang muslim, beliau MEMBEDAKAN SELURUHNYA dari alat masak hingga alat makan untuk masakan babi dengan non-babi demi menghargai umat muslim. Beliau juga selalu mengingatkan pegawainya yang muslim untuk sholat tepat waktu, memberi libur yang cukup ketika hari raya umat muslim, dan memberi tirai di tokonya ketika bulan Ramadhan. Wow.
  • putra dari Tan Kat Sun, Ping Hen (yang superkeren dan superganteng). Adalah pemuda labil yang hobi memberontak. Ooooh dia adalah lawan dari  Soleh. Tampaknya pria keren nan emo ini punya sesuatu terhadap Menuk
  • terakhir, ada tokoh kocak bernama Surya. Pemuda kere, aktor kacangan, dan sahabat si Rika. Dia seorang muslim yang--biasa saja--sepertinya. Nantinya, dia akan memerankan drama yang akan mengubah hidupnya.
Lalu ada tokoh lain seperti seorang ustad yang superduper openminded dan menurut saya--(silakan hajar saya kalo tidak setuju)--tidak banyak [bukan berarti sangat sedikit] yang semacam itu di Indonesia. 
Ada juga seorang pastor yang juga super openminded yang menurut saya--well--saya tidak tahu, karena saya tidak mengenal para pastor lokal. Jadi saya tidak berani berkata.

Btw, Sebelumnya aku mengira film ini bakal menayangkan semua agama yang ada di Indonesia, ternyata tidak. Yah tak apalah.

Cerita dimulai dari penusukan seorang pastor gereja oleh seorang misterius [Eits, tidak disebutkan dan tidak tampak sebagai orang muslim lhoooo. Silakan mau punya persepsi seperti apa, terserah, sumonggo]


Lalu dilanjutkan pengenalan masing-masing tokoh dengan masalahnya sendiri. Ping Hen yang labil dan pemarah yang sangat benci dengan orang lain yang menyebutnya 'Cina!' [terutama yang bersuku lain]. Di awal film ini ditunjukkan adegan sekelompok orang muslim dengan baju koko yang mengejek duluan si Ping Hen dengan sebutan Cina dan Ping Hen membalasnya dengan 'ASU! Teroris!' hingga menyebabkan pertengkaran.

Kemudian juga ditayangkan kekecewaan Abi, anak Rika, karena ibunya murtad. Rika sendiri--nantinya--mengklaim bahwa dia murtad karena mendapat hidayah dari Yesus Kristus. Lalu ada kisah si Menuk yang kerja mati-matian demi menghidupi keluarganya. Entah apa alasannya, tapi dia kerja di restoran Cina yang menjual masakan babi. Kalau saya berpikir bahwa, mungkin dia belum menemukan tempat kerja lain dan harus kerja di situ--ATAU dia sangat open-minded. [Kalau tidak setuju, anda boleh menyalahkan saya dalam penggunaan istilah 'open-minded' ini. Tidak masalah] 

Tan Kat Sun yang punya restoran ini, seperti yang disebutkan tadi, sangat baik hati orangnya dan lagi2 sangat open-minded. Tidak seperti anaknya yang keluyuran dan nggak jelas meski keren nan ganteng. 

Lalu film ini mulai seru ketika Surya mendapatkan tawaran menjadi pemeran utama di drama.....Penyaliban Yesus. Dia berperan sebagai Yesus Kristus. Sumpah cocok banget dengan rambut ikal dan brewoknya. Jangankan Surya, mungkin saya aja cucok kalo meranin Yesus ketika aku lagi brewokan---tapi sayang perutku tak seindah perut Yesus :p


Film ini juga mulai seru ketika Soleh dengan segala kesinisannya dapet kerja jadi BANSER [yang ternyata kapten pemimpin BANSERnya juga--openminded :) ] dan menjaga gereja dari ancaman teroris baru-baru ini yang seperti yang disebutkan di awal cerita. Menuk yang notabene kerja di warung masakan cina yang cukup ngetren di kota itu, kedapetan tugas membantu konsumsi untuk acara gereja. Eeee, nantinya si ping hen tengkar sama si Soleh yang ngatain si ping hen dengan 'Cina'


Si Surya pun juga diragukan oleh peserta/penonton/umat katolik di Gereja karena dia jadi Yesus. Tidak sedikit yang menolaknya, tetapi si Pastor cukup terbuka dan memberi nasihat bahwa kalau memang benar-benar beriman, pasti tidak akan tergoyahkan hanya karena sebuah drama.


Ping Hen sendiri dengan alasan 'demi restoran yang lebih baik' mencoba menghapus idealisme ayahnya tentang toleransi. Gara-gara itu, rangkaian kejadian buruk terjadi : Menuk tidak diliburkan ketika lebaran hari ke-dua, Soleh marah dan menyerbu restoran dengan teman2nya, berantem, restoran rusak, Tan Kat Sun yang udah lenjeh dan tua renta malah dipukul sama Soleh [opo yoo ra modaaar kuwi?]--tapi dia gak langsung mati. haha. 


Kematian Tan Kat Sun [karena sakit, bukan karena dipukul Soleh] menyadarkan Ping Hen akan idealisme ayahnya yang ternyata benar. Ia pun berusaha untuk bangkit lagi dan meneruskan restorannya dengan membawa idealisme ayahnya. Dia tidak se-labil sebelumnya.


Lalu Gereja mengadakan drama lagi ketika Natal kalo gak salah. Tentang kelahiran Yesus. Lagi-lagi si Surya jadi pemeran utamanya [bukan Yesus]. Kemudian si Soleh dengan para BANSER pun jaga lagi. Dia menemukan Bom yang entah siapa yang masang--kemungkinan besar teroris [sekali lagi, tidak disebutkan apa agama terorisnya. haha] yang sama. 

Detikan di bom udah mau habis dan bakal meledak. Akhirnya--demi Tuhannya (Tuhan atau Agama ya? :p) dan demi keluarganya dan demi warga sekitar dan demi menjaga gereja dan demi membuktikan bahwa dirinya berguna--dia lari bersama bomnya dan meledak bersamanya---mati syahid (well, seharusnya syahid). Kematian heroik ini Soleh pun diabadikan menjadi nama daerah tersebut : Pasar Soleh. Semua orang bersedih namun memuji hal tersebut. 

Kemudian film ini diakhiri dengan pindahnya Ping Hen menjadi Islam karena berbagai faktor dan perayaan tahun baru oleh seluruh warga yang tampaknya sudah rukun semenjak itu.


Endingnya menampilkan potongan ayat-ayat suci mengenai bagaimana bersikap dalam perbedaan.
Ayat-ayat tersebut diambil dari masing-masing kepercayaan yang ditampilkan di film ini.
--


Film ini seharusnya bisa bagus sekali, tetapi menurutku ceritanya terlalu terburu-buru dan kurang mendalam. Selain itu, penggambaran stereotypenya agak terlalu lebay dan sedikit sinetron-ish. Meskipun demikian, saya setuju kalau masalah semacam di dalam cerita film ini memang masih banyak di Indonesia. Indonesia itu--bentar--nggak cuma Indonesia--Dunia itu terdiri atas masyarakat yang plural. Mau tak mau kita harus berhadapan dengan orang lain yang sudah pasti berbeda dengan kita. Film ini sebenarnya bisa membawa pesan-pesan multikulturalisme yang sebenarnya kalau kita cukup *cough* open minded *cough*, kita akan menjadi lebih arif nan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dan dalam menjadi pribadi yang berbeda--akan tetapi menurutku film ini tanggung deh, kurang dalem. Sekali lagi, penyampaiannya terlalu terburu-buru.


Oh, satu lagi yang sangat saya sayangkan--adalah berpindahnya Ping Hen menjadi Islam [dan kemudian mengubah CANTON CHINESE FOOD menjadi BAROKAH HALAL CHINESE FOOD. lol]. Kalau dari segi realita, saya tidak menyayangkan itu--karena itu hak Ping Hen dalam memilih kepercayaan :p tapi kalo dari segi film--kesannya film ini [dan tampaknya memang begitu] menjadi sangat---islamsentris. Lucu aja tiba-tiba si Ping Hen jadi muallaf--well meski sepertinya karena dia dapet Hidayah. Kalau buat saya--dan teman2 saya yang ikut nonton--idealnya si Ping Hen tetap jadi Konghucu dan itu akan tetap menimbulkan pertanyaan bagi penonton : apakah mereka akan tetap / bisa hidup harmonis dalam perbedaan?
[kudengar endingnya dibuat atas 'permintaan pasar'. gosip lho ini. gosiiiip]
[lucunya, film yang setidaknya menurutku tampak 'islam-sentris' ini sepertinya masih mendapat 'hujatan' bagi beberapa pihak islam]


VERDICT : 7/10
Pros:
+Membawa pesan pluralisme dan multikulturalisme [meski tanggung] (bentar,bentar, sepertinya ada yang menganggap ini sebagai Contra deh.)
+Berani mengangkat tema tersebut.
+Tidak terlalu serius dan [sebenarnya] ringan plus ada soundtrack Sheila On 7
+Menampilan beberapa kata-kata dan adegan bijak yang sangat--menyenangkan dan inspiratif--dan instrospektif.
+Enditha 
+Revalina S. Temat (yang berjilbab. kalo gak pake jilbab sih--nggak masuk ke Pro :p)


Cons:
-Penyampaian terlalu terburu-buru
-Sterotype yang agak lebay. [tapi faktanya emang (pernah) terjadi gitu sih]-Bagian akhir cerita yang--secara subjektif--kurang sip
-Bagian akhir cerita yang--secara subjektif--kurang sip
-dan bagian akhir cerita yang--secara subjektif--kurang sip


Bagian akhir dari cerita itu menghilangkan satu poin.
Terburu-burunya penyampaian cerita di film ini menghilangkan satu poin


Melalui film ini, saya berpikir kembali tentang negeri ini yang--konon Bhinneka Tunggal Ika tetapi tidak Ika-Ika. Ada apa sih dengan pluralisme? Kenapa kita tidak bisa menjadi masyarakat yang multikultural padahal itu dapat menjadi solusi dari masalah perbedaan yang faktanya secara kodrati memang tidak terelakkan untuk ada?

Menghargai dan mengerti bangsa, budaya, suku, atau agama lain itu, bagi saya, tidak harus berarti menyetujui semua atau sebagian dari unsur-unsurnya. Bagi saya, hal itu [menghargai dan toleransi] tu semacem--semacam kita berusaha untuk menjaga keseimbangan dari perbedaan-perbedaan tersebut agar tidak terjadi kekacauan. Tapi kalau salah satu dari kita kepengin jadi yang 'berbobot' sendiri di dalam timbangan, kepengin semua takaran seperti dengan unsur kita semua, niscaya keseimbangan akan rusak dan kita semua akan terjatuh.


Tuhan [kalau kamu percaya Tuhan] menciptakan kita berbeda-beda, tapi

Masih pentingkah kita berbeda?


Pada akhirnya saya berikan tepuk tangan dan hormat kepada Hanung Bramantyo yang berani menyajikan karya semacam ini--meskipun demikian tak ada gading yang tak retak. Karya ini bisa menjadi jauh lebih baik sebenarnya.


End of Spare Time


n.b. membaca respon Hanung Bramantyo [melalui dapurfilm.com] atas komentar-komentar pedas [maupun manis?] dari penontonnya, sepertinya beliau sudah SIAP dengan segala respon penonton tersebut. wow.





2 comments:

lalityarum said...

seneng deh baca tulisan-tulisan review film "?" yang banyak beredar akhir-akhir ini, termasuk punyamu. aku sendiri blom nonton karena terhalang beberapa hal dan tenang aja aku sama sekali ga keberatan baca spoiler.
I'd like to write my own review setelah nonton ntar, tapi dengan banyaknya review yang udah kubaca, takutnya review yang kutulis nanti jadi ga 100% hasil dari pemikiranku sendiri.

Aulia Ariani said...

bahkan laki pun bilang rio dewanto superganteng