Saturday, December 3, 2011

Krupuk : Sebuah Introspeksi

Di Indonesia, krupuk seringkali menjadi kudapan pelengkap makan. Entah untuk masakan berkuah seperti soto atau sop, ataupun untuk masakan tidak berkuah lainnya.
Tetapi tidak sedikit orang Indonesia yang menggemari krupuk sebagai kudapan independen, maksudnya berdiri sendiri tanpa mengiringi makanan lainnya.

Saya baru menyadari hari ini bahwa ilmu yang saya pelajari saat ini sebenarnya adalah kudapan untuk saya. Enak sih, tapi sepertinya tidak akan pernah menjadi santapan utama saya. Bahasa Jepang sepertinya lebih cocok menjadi hobi saya, dan saya sepertinya terlalu lama berkutat di hobi sampai-sampai saya tidak menyadari yang saya inginkan bukan berkutat dengan hobi ini terus. (Meski di sisi lain, saya agak sulit mendapatkan pendidikan formal di santapan utama saya, seni rupa, karena masalah biologis.)

Di sisi lainnya, saya selama 3 tahun terakhir terlalu idealis. TERLALU IDEALIS dalam santapan utama saya sampai-sampai saya tidak menyadari kalau saya itu belum jadi apa-apa, masih dalam taraf belajar hal-hal dasar, dan belum pantas untuk menjadi idealis--bahkan dalam belajar sekalipun.

Besok adalah Nihongo Noryoku Shiken, ujian kemampuan bahasa Jepang. Saya mengikuti tingkat N2 yang tergolong susah. Dua bulan yang lalu saya belajar cukup giat ; seminggu beberapa kali membaca dan latihan soal. Tetapi sebulan terakhir ini saya seperti kehilangan keinginan untuk menyukseskan N2 ini. Kurang yakin juga apa karena ditinggal TTMku ke Jepang selama hampir dua bulan, atau karena aku excited dengan Cloud Street, paraparanoid, dan game development rahasia-ku dengan sahabat SD-ku. Saya cuma belajar ketika waktu senggang atau sembari menunggu suatu hal.

Saya sih nggak akan kecewa dan, menyebut dengan istilah populer zaman sekarang, galau jika gagal. Tetapi kok ya sayang juga gitu kalau gagal, tetapi kalau mau mati-matian kok ya merasa banyak hal yang lebih penting gitu untuk masa depannya.

Saya baru menyadari bahwa saya terlalu lama mengudap krupuk sampai-sampai saya eneg dan baru sadar kalau saya lebih baik makan nasi, kentang, daging, sayur dan makanan 'utama' lainnya. Seharusnya bahasa Jepang itu yang menjadi hobi saya di waktu senggang, bukan menggambar.

Tapi sepertinya masih ada kesempatan mendapatkan krupuk spesial di awal tahun depan. Kurasa tak ada salahnya saya mencoba mengudapnya lagi.

dan saya tidak pernah menyesal mengudap krupuk terlalu lama hingga sekarang. Enak kok.

analogi yang aneh.

2 comments:

ENCORE VOICE said...

aku gak yakin apakah buatku bahasa Jepang itu sebenernya cemilan ato bukan. dibilang excited, ya cukup excited. awalnya aku bener-bener pingin banget ngejar bahasa Jepang ini. tapi akhir-akhir ini aku juga kok rasanya capek sendiri. karena selain bahasa Jepang, ada juga hal-hal lain yang pingin kulakukan.

mengenai N2 pun, karena aku sibuk kerja, gak ada waktu, aku juga gak yakin akan lulus. aku pun gak akan merasa kecewa kalo gak lulus. tahun depan bisa ikutan lagi (ato kapanpun selama masih ada waktu dan uang)

aku cukup bisa memahami isi blog kamu, meskipun memang aneh sih analoginya. tapi aku ngerti.

Sara--Fithry said...

so damn right.

kenapa ya menyadari sesuatu seperti ini aja butuh waktu lama sekali? kalo kamu pikir2, seandainya kamu berpikiran seperti ini lebih cepat, apakah akan mengubah sesuatu?

aku benci semester ini karena agak lowong jadi membuatku banyak memikirkan hal2 kayak gitu.
dan bagaimanapun, memiliki sesuatu yang disenangi itu adalah berkah yang luar biasa, bukan? =)

salam kece! haha