Wednesday, December 14, 2011

Ulasan Film Akhir Pekan + Senin-Selasa : Fight Club, Sauna, Kaidan, Solaris

(written in Indonesian / インドネシア語で)

Tiba-tiba saja keinginanku untuk menonton film muncul lagi. Akhir pekan minggu lalu aku menghabiskan waktu luang dengan menonton berbagai film. Berikut ulasan  mengenai film-film yang kutonton.

1. Fight Club (1999) - David Fincher
Pemeran utama : Brad Pitt, Edward Norton, Helena Bonham Carter


Telat banget baru nonton film ini sekarang. Sebenarnya aku sudah ingin nonton film ini sejak SD, tetapi malah nggak nonton-nonton sampai akhir minggu kemarin.
Film ini tentang seorang pria biasa saja (Edward Norton) yang mengalami stress dalam hidupnya. Dia insomnia. Kemudian ia memiliki hobi pergi ke acara sosial yang isinya penderita kanker, TBC, dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya agar bisa ikut 'menangis' di sana (gara-gara itu dia pun jadi bisa tidur). Ia juga bertemu dengan Marla (Helena Bonham), gadis aneh liar (tampak seperti pelacur) yang kemudian seolah-olah seperti mengikutinya.
Klik untuk memperbesar gambar

 Hingga ia bertemu dengan Tyler Durden (Brad Pitt), seorang unik pembuat sabun yang karismatik dan agak gila.  Kemudian si pria biasa saja ini kehilangan apartemennya dan ia pun tinggal bersama Tyler. Berawal dari berantem di depan sebuah bar, mereka kemudian mendirikan kelab berantem : Fight Club. Kelab ini kemudian semakin besar dan banyak pengikutnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kegiatan yang mereka lakukan semakin nggak benar. Tyler mulai anarkis dan melakukan rencana-rencana destruktif pada kotanya. Pria biasa itu pun berada di titik kebingungan yang sangat besar dan ia harus mencari tahu apa yang terjadi.

Plus : Dialog yang inspiratif dan menarik, KEKERASAN!, plot yang berputar-putar, PLOT TWIST!, dan cerita yang sangat menarik dan bertema dewasa.
Minus : Sedikit membingungkan jika tidak memperhatikan atau tidak biasa dengan film semacam ini, konten seks yang cukup eksplisit.

8.5/10


2. Sauna (2008) - Anti-Jussi Annila
Pemeran Utama : Ville Virtanen, Tommi Eronen



Film horror (? - Lebih ke drama psikologis sih) Finlandia berlatar waktu abad 16, pasca perang Swedia-Rusia; tentang dua kakak beradik yang merupakan seorang prajurit dan kartografer yang ditugaskan menyelesaikan masalah perbatasan dengan Rusia.

Mereka menemukan daerah rawa yang tidak tercantum di peta, yang juga tidak diketahui pihak Swedia dan Rusia, yang terdapat desa aneh dan sebuah bangunan kotak di tengah rawa yang disebut sebagai 'Sauna'. Hal-hal mulai menjadi semakin buruk setelah itu.

Klik untuk memperbesar gambar
Film ini sangat indah! Sinematografinya menarik sekali untuk dilihat. Menampilkan alam Finlandia yang indah (tetapi dalam konteks kelam dan 'galau'). Sangat 'atmosferik' sekali. Sedikit mengingatkanku pada Noroi - The Curse digabung dengan film-filmnya Andrei Tarkovsky

Film mengenai manusia dan dosa. Meninggalkan kesan ambigu dan pertanyaan-pertanyaan. 

Plus :  Dialog yang inspiratif dan menarik, sinematografi yang sangat keren, suasana kelam dibangun melalui tempo yang lambat, momen seram yang sengaja dibuat sedikit tapi di waktu yang pas, ending yang WTF?
Minus : Terlalu singkat untuk horor semacam ini, Sauna yang merupakan fokus utama cerita malah jarang diekspos, dan mungkin kurang menarik bagi penonton horror yang penuh kejutan dan kaget-kagetan--karena ini horor tempo lambat dan 'atmosferik'

7.5/10

3. Kaidan / Kwaidan (Ghost Stories) (1965) - Masaki Kobayashi

Film drama horror Jepang tahun 1965 dengan sutradara Masaki Kobayashi ini memenangkan Special Jury Prize Cannes Fest. 1965 dan Academy Award 1966 untuk film asing terbaik.
Terdapat 4 cerita horror rakyat / tema tradisional Jepang : 'Rambut Hitam', 'Wanita Salju' (mbaknya serem ala suzana), 'Hoichi si 'tak bertelinga'', dan 'Di dalam secangkir teh'. Film ini cukup lama, hampir 3 jam.

Rambut hitam adalah mengenai seorang samurai muda yang menceraikan istrinya pada kondisi mereka yang miskin, kemudian bekerja di istana dan menikahi putri. Akan tetapi dia menyadari bahwa istri pertamanya lebih baik dari sang putri. Dia pun kembali menemui istri pertamanya dan saling nostalgia--yang kemudian ia dapati bahwa itu adalah mimpi buruk yang menyeramkan.

Cerita wanita salju mungkin paling sering terdengar di telinga. Tentang seorang pria muda penebang kayu yang terjebak di badai salju kemudian bertemu dengan siluman wanita cantik namun menyeramkan dan berkimono putih  yang hampir membunuhnya. Hari-hari berlalu, dia bertemu dengan seorang wanita cantik yang ia temui di perjalanan yang kemudian dinikahinya. Akan tetapi, lambat laun sebuah fakta misterius pun terungkap.

Klik untuk memperbesar gambar

Hoichi si tak bertelinga adalah cerita yang pualing artistik (dan lucu) yang aku tonton di film ini. Tidak terlalu menyeramkan tetapi indah. Di film ini dinyanyikan kisah perang Genji dengan Heike diiringi Biwa. Hoichi adalah seorang biksu muda yang buta. Suatu hari ketika ia menjaga kuil, ia didatangi arwah samurai yang memintanya bermain Biwa (alat musik dawai yang dipetik, tradisional Jepang) di 'dunia lain'. Biksu dan pendeta mulai resah karena ia selalu pergi malam-malam. Akhirnya ia diberi mantra/jimat penolak arwah agar ia tidak diculik oleh arwah samurai itu. Akan tetapi sebuah kekonyolan terjadi sehingga Hoichi terpaksa kehilangan telinganya.

Di Dalam Secangkir Teh merupakan film paling pendek. Suatu hari di zaman Meiji awal abad 20, seorang sastrawan menceritakan karangannya. Ia bercerita bahwa ada seorang penjaga kekaisaran yang suatu hari menemukan sesosok wajah (mukanya sangat psikopat. Seram) yang bukan dirinya, terpantul di cangkirnya. Orang yang memiliki wajah itu pun kemudian menghantuinya ketika ia menjaga, tetapi ia berhasil mengusirnya. Akan tetapi malapetaka pun terjadi setelah itu.

Meski ceritanya simpel, temponya lambat dan (lagi-lagi) 'atmosferik'. Indah dipandang, musiknya bagus, pencahayaannya teater banget, dan aku sudah bilang belum kalau temponya lambat?

Plus : Suasana yang menyeramkan, akting, kostum, make up, dan WAJAH pemeran yang mendukung (seram). musik dan tata suara yang sederhana namun artistik, sinematografi dan setting yang bagus
Minus : tempo terlalu lambat bagi yang tidak biasa, kurang cocok untuk penyuka horor penuh kejutan dan kaget-kagetan.

Btw, Masaki Kobayashi membuat film ini dalam 5 tahun.

8/10

4. Solaris / Солярис (Solyaris) (1972) - Andrei Tarkovsky
Pemeran Utama : Natalya Bondarchuk, Donatas Banionis , Jüri Järvet, Vladislav Dvorzhetsky 


Agak susah menceritakan film-film karya Tarkovsky. Menonton filmnya seperti menonton sebuah pemikiran akan fenomena di dunia / filosofi yang kemudian dituliskan menjadi novel, kemudian novel itu diinterpretasikan seniman pada lukisan surreal, kemudian seorang sastrawan melihat lukisan itu dan kemudian membuatnya menjadi sebuah puisi, pada akhirnya puisi itu dibuat menjadi film. Kompleks.

(Ada beberapa orang yang mengatakan kalau menonton film-filmnya Tarkovsky adalah sebuah tantangan. (saking beratnya kalik ya?))

Film ini adalah film fiksi-ilmiah misteri dari Rusia. Hampir 3 Jam. 
Film ini bukan fiksi-ilmiah pada umumnya yang penuh aksi dan alien, film ini lebih menitikberatkan pada penjelajahan pikiran dan perasaan manusia terhadap sains, cinta, dan kehidupan--melalui fenomena antariksa. 

Seorang psikolog, Kelvin (Donatas Banionis) ditugaskan untuk membereskan masalah di sebuah planet bernama Solaris. Riset yang tidak kelar-kelar dan isu aneh yang muncul di planet itu diungkapkan oleh Burton (Vladislav Dvorzhetsky) yang kemudian dianggap 'gila' dan tidak dipercayai oleh ilmuwan lainnya di bumi. Kelvin sampai di Solaris tanpa disambut oleh 3 ilmuwan / kosmonot yang ada di stasiun angkasa Solaris. Ia mendapati salah satu ilmuwan mati. Dua ilmuwan lainnya bersikap sangat aneh. Kemudian suatu hari ia dipertemukan dengan sosok makhluk yang berwujud seperti istrinya, Khari (Natalya Bondarchuk) yang sudah mati 10 tahun lalu. Dia mengira itu halusinasi, tetapi ternyata bukan. Khari palsu itu bisa berinteraksi, dilihat, disentuh, dan berpikir. Akan tetapi khari palsu itu tidak memiliki semua memori Khari asli dan cara pikirnya berbeda.
Planet tersebut seperti memiliki anomali, yakni memproyeksikan salah satu bagian dari pikiran manusia menjadi nyata. 

Klik untuk memperbesar gambar

Film ini, seperti karya Tarkovsky lain yang kutonton (Stalker), menampilkan ciri khasnya, yakni adegan hening yang (terlalu) panjang nan 'atmosferik' (seperti danau yang disyuting lama, adegan terowongan yang panjang), terkesan 'medidatif', tak banyak musik, dan dialognya terasa garing. Tetapi film ini  menampilkan dialog yang 'cerdas' (tapi garing) dan membuatku berpikir. Seperti "Shame—the feeling that will save mankind", "Whenever we show pity, we empty our souls.", dan sebagainya. DALEM.

Bisa dibilang ini dialog pemikiran yang kemudian dibikin film yang disesuaikan dengan tema tertentu, yakni Sci-fi. 

Sepertinya aku akan menonton film ini sekali lagi.

Oh, ya, Natalya Bondarchuk cantik sekali.

7.5 / 10 
(mbosenin tapi menarik (?))
Plus : BERAT, dialog dan makna cerita yang dalam, sinematografi yang indah, dan BERAT, dan Natalya Bondarchuk.
Minus : BERAT, terlalu lambat, dan aku yakin kalau tidak niat dan tidak biasa--pasti akan ngantuk (setidaknya untuk kali pertama nonton).

Tetapi ini masih lebih enteng dari Stalker.
Kalau tidak salah, film ini diremake tahun 2002 yang dimainkan oleh George Clooney. (katanya, meski yang main Clooney nan ganteng itu, remakenya tidak sebagus aslinya)
Aku KETAGIHAN filmnya Tarkovsky. Bakal kucari film yang lain dan kutonton. Tetapi sepertinya film berikutnya yang ingin kutonton adalah Sweeney Todd. haha.

End of Spare Time.

0 comments: